Dari Memahami ke Melakukan: Memandang Parenting Anak Usia Dini sebagai Perjalanan, Bukan Kesempurnaan

Ditulis oleh: Admin - Kamis, 17 September 2026

Ilustrasi Utama

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia terus belajar, memahami siapa dirinya, membaca kebutuhannya, dan memilih respons yang membantu ia bertumbuh.

Menjadi orang tua sering mempertemukan kita dengan pertanyaan tanpa jawaban tunggal. Mengapa anak mudah tantrum? Mengapa sudah berkali-kali dipanggil tetapi belum juga bergerak? Mengapa ada anak yang cepat menyesuaikan diri, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama? Pertanyaan-pertanyaan ini terasa lebih berat karena hadir di masa yang sering disebut golden age anak, periode ketika pengalaman sehari-hari paling membentuk cara berpikir dan meresponsnya kelak.

Pertanyaan semacam inilah yang menjadi titik tolak dua materi dalam sebuah seminar orang tua Rona Montessori pada Sabtu, melalui dua materi, "Parenting Competence: Investasi Terbaik untuk Masa Depan" dan "Seni Parenting Anak Usia Dini: Dari Memahami ke Melakukan." Materi pertama mengajak orang tua mengubah paradigma, dari mencari anak yang sempurna menjadi kesediaan menjadi orang tua yang terus belajar. Materi kedua membawa pemahaman itu satu langkah lebih jauh, yaitu apa yang kemudian dilakukan dalam keseharian.

Dua hal ini sebenarnya saling melengkapi. Memahami anak tanpa berani mengubah respons hanya akan berhenti sebagai wawasan, sementara mengubah respons tanpa pemahaman mudah berubah menjadi reaksi yang berulang tanpa arah. Pola asuh yang tumbuh pelan-pelan justru lebih bertahan lama dibanding perubahan drastis yang sulit dijaga konsistensinya.

Pergeseran Cara Pandang dalam Parenting Anak Usia Dini

Ilustrasi 1

Salah satu pergeseran cara pandang yang penting adalah berhenti melihat anak sebagai kertas kosong yang harus dibentuk sepenuhnya oleh orang dewasa. Setiap anak lahir membawa temperamen, tingkat aktivitas, sensitivitas, dan cara beradaptasi yang berbeda.

Konsep goodness of fit membantu memahami hal ini. Bukan hanya tentang bagaimana anak menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, tetapi juga bagaimana orang dewasa menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik anak. Gagasan ini berakar pada penelitian klasik Thomas dan Chess tentang temperamen, yang menyimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak dan perkembangan emosinya lebih optimal ketika tuntutan lingkungan sesuai dengan kapasitas dan gaya anak, bukan ketika semua anak diperlakukan dengan cara yang sama.

Karena itu, pertanyaan kita perlahan berubah. Bukan lagi "kenapa dia nakal", tetapi "apa yang sebenarnya terjadi". Bukan "kenapa dia malas", tetapi "apa yang membuat tugas ini terasa sulit baginya". Label sering menutup percakapan, sementara pemahaman justru membuka pilihan respons.

Tantrum Butuh Regulasi Dulu, Baru Penjelasan

Salah satu situasi yang paling menguji orang tua adalah saat emosi anak sedang besar. Ketika anak menangis, berteriak, atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi, dorongan pertama orang dewasa sering kali membujuk, memarahi, mengancam, atau akhirnya mengabulkan permintaan itu.

Saat emosi anak sedang sangat tinggi, kemampuan berpikir logis dan mengendalikan diri memang belum bekerja seoptimal ketika ia tenang. Ini bukan soal anak sengaja tidak mau mendengar, melainkan kapasitas regulasinya yang sedang terbebani.

Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting, yaitu menenangkan diri lebih dulu, memvalidasi emosi anak, tetap menyampaikan batas, lalu membantunya kembali tenang. "Ibu tahu kamu kecewa." "Kamu ingin sekali benda itu." "Hari ini kita tidak membelinya." "Kalau sudah lebih tenang, kita bicara." Pendek, jelas, dan hadir.

Pola komunikasi dengan anak seperti ini sejalan dengan konsep serve and return dari Center on the Developing Child, Harvard University. Interaksi timbal balik yang peka antara anak dan orang dewasa mendukung perkembangan arsitektur otak, bahasa, kemampuan sosial, sekaligus kecerdasan emosional anak sejak usia dini.

Disiplin Dipandang sebagai Mengajar, Bukan Menghukum

Disiplin, dalam pengertian ini, dikembalikan pada akar maknanya, yaitu mengajar, bukan menghukum. Hukuman berorientasi pada kesalahan yang sudah terjadi, sementara disiplin positif bertanya, apa yang perlu anak pelajari dari kejadian ini.

Ketika anak merebut mainan, tujuannya bukan sekadar membuatnya berhenti, tetapi mengajarkan menunggu giliran. Ketika anak tidak mau membereskan, tujuannya bukan membuatnya menurut, tetapi perlahan membangun tanggung jawab.

Cara memberi instruksi pun berperan. Daripada berteriak dari kejauhan dengan banyak pesan sekaligus, orang tua dapat mendekat, memastikan perhatian anak, memberi satu instruksi yang jelas, dan bila perlu menawarkan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima. Bukan "jangan lari", tetapi "jalan pelan, ya". Perubahan kecil dalam bahasa dapat mengubah pengalaman belajar anak.

Kemandirian Tumbuh Lewat Kesempatan

Ilustrasi 2

Ada paradoks yang biasa terjadi dalam pengasuhan, yaitu ingin anak mandiri, tetapi karena ingin cepat selesai, orang dewasa sering mengerjakan terlalu banyak untuknya. Tips mendidik anak mandiri, dalam pengertian ini, bukan soal metode yang rumit, melainkan soal keberanian memberi ruang dan waktu. Memakaikan sepatu atau membereskan tas memang terasa lebih cepat, tetapi bantuan yang terus-menerus mengurangi kesempatan anak membangun keyakinan bahwa ia bisa.

Proses kemandirian tumbuh bertahap, dari orang tua mencontohkan, melakukan bersama, anak mencoba dengan pendampingan, hingga akhirnya mampu sendiri. Prinsip yang sama dikenal sebagai scaffolding, yaitu membantu secukupnya, lalu melepaskan bantuan secara bertahap.

Pendekatan ini dekat dengan metode Montessori, yang menempatkan kemandirian, aktivitas bermakna, dan kesempatan anak melakukan sesuatu sendiri sebagai bagian penting perkembangan. Tinjauan Marshall (2017) menunjukkan sejumlah elemen Montessori, termasuk pengalaman practical life dan lingkungan belajar yang terstruktur, memiliki dasar yang relevan dalam penelitian perkembangan anak.

Lebih dari Calistung: Menyiapkan Anak untuk Kehidupan

Kesiapan sekolah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca, menulis, atau berhitung. Anak juga membutuhkan kemampuan mengikuti instruksi, menunggu giliran, mengelola frustrasi, berpisah dari orang tua, serta merawat kebutuhan dan barang pribadinya.

Di balik kemampuan itu ada executive function, yaitu working memory, inhibitory control, dan cognitive flexibility, kemampuan menyimpan informasi, menahan impuls, dan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kemampuan ini menjadi fondasi penting bagi proses belajar dan regulasi diri anak.

Maka, ketika anak butuh waktu menunggu giliran atau beradaptasi dengan perubahan, ia bukan sekadar "berperilaku", melainkan sedang membangun keterampilan yang kelak menopang kemampuannya belajar hal-hal yang jauh lebih kompleks.

Rumah dan Sekolah: Membentuk Lingkungan yang Konsisten

Anak tidak hidup hanya di sekolah, dan tidak pula hanya di rumah. Proses tumbuh kembang membutuhkan komunikasi antara keduanya, yang berbasis data, fokus pada solusi, dan konsisten. Orang tua dan guru perlu membicarakan observasi nyata, bukan asumsi, serta bertanya apa yang dapat membantu anak, bukan siapa yang salah.

Ketika pesan yang diterima anak konsisten, baik soal batas, tanggung jawab, maupun cara mengekspresikan emosi, ia lebih mudah memahami apa yang diharapkan darinya, di lingkungan mana pun ia berada.

Pada akhirnya, kompetensi mengasuh anak bukan tentang menguasai seluruh teori parenting. Tidak harus sempurna. Kompetensi tumbuh ketika pengetahuan perlahan hadir dalam cara kita merespons anak setiap hari, mungkin lewat perubahan kecil, seperti menahan diri beberapa detik sebelum bereaksi, atau mengganti satu label dengan satu pertanyaan.

Daftar Pustaka

Center on the Developing Child at Harvard University. (n.d.). Serve and Return: Back-and-Forth Exchanges. Harvard University.

Center on the Developing Child at Harvard University. (n.d.). Enhancing and Practicing Executive Function Skills with Children from Infancy to Adolescence. Harvard University.

Marshall, C. (2017). Montessori education: A review of the evidence base. npj Science of Learning, 2, Article 11. https://doi.org/10.1038/s41539-017-0012-7

Thomas, A., & Chess, S. (1977). Temperament and Development. New York: Brunner/Mazel.