Montessori dan Kurikulum Merdeka di PAUD: Bagaimana langkah Memadukannya?
Ditulis oleh: Admin - 13 Oktober 2026

Apakah memenuhi CP Nasional berarti harus mengubah cara anak belajar dalam Montessori? Pertanyaan tersebut muncul ketika sekolah Montessori perlu memenuhi Capaian Pembelajaran (CP) Nasional.
Ringkasan Singkat
Dari sudut pandang Montessori, memenuhi CP tidak berarti mengubah cara anak belajar. Perbedaan metode Montessori dan Kurikulum Merdeka di PAUD ada pada kedudukannya: Montessori adalah metode dan filosofi pendidikan, sedangkan Kurikulum Merdeka adalah kebijakan nasional dengan CP sebagai acuan hasil. Guru membaca CP sebagai kompetensi, bukan daftar kegiatan, menjaga work cycle dan prepared environment, memakai observasi untuk mengambil keputusan, lalu mendokumentasikan keterkaitan pengalaman anak dengan CP setelahnya.
Daftar Isi
- Perbedaan Metode Montessori dan Kurikulum Merdeka di PAUD
- Apakah Memenuhi CP Berarti Harus Mengubah Cara Anak Belajar?
- Pengalaman Belajar Montessori Tidak Selalu Dimulai dari CP
- Menjaga Work Cycle dan Prepared Environment
- Dari Observasi Menuju Keputusan Pedagogis
- Menjaga Autentisitas Montessori
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Penutup
- Rujukan
Perbedaan Metode Montessori dan Kurikulum Merdeka di PAUD
| Aspek | Montessori | Kurikulum Merdeka PAUD |
|---|---|---|
| Kedudukan | Metode dan filosofi pendidikan | Kebijakan kurikulum nasional |
| Yang dipenuhi | Perkembangan utuh dan kemandirian anak | Capaian pada elemen-elemen CP |
| Peran guru | Pengamat, penyiap lingkungan, pemandu | Fasilitator, perancang pembelajaran, asesor |
| Peran anak | Memilih kegiatan di lingkungan yang sudah disiapkan | Bermain, mengeksplorasi, berpartisipasi aktif |
| Materi | Konkret, berjenjang, bisa mengoreksi sendiri | Tema, proyek, media, pengalaman kontekstual |
| Penilaian | Observasi, portofolio, rekam perkembangan | Observasi, ceklis, narasi, portofolio, rubrik |
| Keluarga | Mitra penguat kemandirian di rumah | Dilibatkan, termasuk saat transisi ke SD |
Tabel ini dibaca dari kacamata praktik Montessori di kelas, bukan untuk menilai mana yang lebih tepat. Tidak ada baris yang saling meniadakan. Pembedanya paling mudah dirumuskan begini: CP menyebut apa yang perlu berkembang, Montessori menggambarkan bagaimana anak mengalaminya. Sekolah tidak bisa mengabaikan CP, tetapi CP sendiri tidak menentukan bentuk kegiatan harian di kelas.
Apakah Memenuhi CP Nasional Berarti Harus Mengubah Cara Anak Belajar dalam Montessori?
Tidak harus. Tetapi menjaga cara belajar anak menuntut guru bekerja dengan urutan yang berbeda dari kebiasaan menyusun rencana. Berikut lima pegangannya.
Membaca CP sebagai kompetensi, bukan daftar aktivitas
Salah satu kendala terbesar guru adalah menerjemahkan capaian menjadi kegiatan. Menemukan capaian tentang kemandirian, misalnya, guru bergegas mencari aktivitas Practical Life yang kelihatannya cocok.
Tidak sepenuhnya salah, namun ada langkah yang terlewat. Sebelum memilih aktivitas, guru perlu memahami kompetensinya. Seperti apa kemandirian pada anak di tahap usia ini? Bagaimana ia tampak dalam keseharian? Pengalaman apa di lingkungan kelas yang sudah mendukungnya?
Jika langkah tersebut dilewati, CP mudah berubah menjadi tugas yang harus dikerjakan semua anak pada waktu yang sama. Itu bertolak belakang dengan cara Montessori menghormati kesiapan masing-masing anak.
Bagi Rona, fitrah anak dan adab menjadi salah satu pijakan dalam proses penyesuaian CP. Hal yang ditimbang bukan hanya apa yang dicapai anak, tetapi juga cara kita mendampinginya sampai ke sana.
Pengalaman Belajar Montessori Tidak Selalu Dimulai dari CP
Di kelas Montessori, belajar terjadi melalui interaksi anak dengan lingkungan yang sudah dipersiapkan. Anak memilih pekerjaan sesuai kesiapan dan ketertarikannya, mengulanginya, menemukan sendiri kesalahannya melalui control of error, lalu membangun konsentrasi dan kemandirian sedikit demi sedikit.
Ambil contoh menuang air dari teko ke gelas. Satu kegiatan ini bisa menyentuh motorik halus, konsentrasi, urutan langkah, dan tanggung jawab merapikan. Sebaliknya, satu kompetensi di CP bisa terlihat melalui banyak pengalaman, bukan hanya satu material.
Maka penerjemahan CP perlu menimbang tujuan material, tahap perkembangan, kesiapan anak, dan pengalaman yang benar-benar terjadi di kelas.
Menjaga Work Cycle dan Prepared Environment
Menerjemahkan CP tidak berarti seluruh pengalaman belajar harus mengikuti tema atau jadwal yang seragam. Prepared environment disusun dari kebutuhan perkembangan anak dan progresi material. Guru mempresentasikan material berdasarkan observasi dan kesiapan anak, bukan karena sebuah kompetensi tercantum di rencana mingguan.
Cultural Study, eksplorasi alam, dan kegiatan kelompok boleh memperkaya pengalaman anak. Tema pun boleh hadir sebagai pengayaan. Hal yang perlu dijaga: seluruh work cycle tidak berubah menjadi pembelajaran tematik.
Pertanyaan guru pun bergeser. Bukan lagi "aktivitas apa yang cocok untuk CP ini?", tetapi "bagaimana kompetensi ini berkembang secara alami melalui lingkungan dan pengalaman Montessori?"
Dari Observasi Menuju Keputusan Pedagogis
Mencatat bahwa anak sudah melakukan suatu aktivitas belum cukup. Guru juga memperhatikan kualitas keterlibatannya, tingkat kemandirian, pengulangan, konsentrasi, koordinasi, dan cara anak menanggapi tantangan. Informasi itu membantu guru mengenali perkembangan kompetensi yang berkaitan dengan CP, sekaligus menentukan langkah berikutnya.
| Yang tampak | Pertanyaan guru | Opsi pengambilan keputusan |
|---|---|---|
| Anak mengulang satu pekerjaan berkali-kali | Apakah ia masih membangun penguasaan? | Beri waktu dan ruang, jangan menyela |
| Gerakan masih belum stabil | Perlukah material dipresentasikan kembali? | Presentasi ulang atau tawarkan material yang lebih sederhana |
| Anak menyelesaikan dengan mantap | Siapkah ia menerima tantangan berikutnya? | Perkenalkan material lanjutan |
| Konsentrasi mudah terputus | Perlukah orang dewasa memberi ruang? | Kurangi intervensi, tinjau penataan lingkungan |
Di sinilah keputusan pedagogis bekerja. Instrumennya bisa berupa ceklis, catatan anekdot, narasi, dan portofolio. Kajian tentang asesmen bahasa PAUD di Indonesia menemukan ketiganya paling sering dipakai, tetapi kemampuan guru dan ketersediaan instrumen belum merata. Karena itu kemampuan mengamati layak dilatih secara khusus.
Menjaga Autentisitas Montessori
Menerjemahkan CP bukan menukar filosofi Montessori dengan tuntutan administratif. Sekolah tetap perlu dokumentasi yang menunjukkan keterkaitan antara pengalaman belajar dan capaian nasional. Arah kerjanya yang perlu dijaga: pengalaman anak diamati dulu, keterkaitannya dengan CP dicatat sesudahnya. Dokumentasi tidak boleh menentukan seluruh kegiatan anak.
CP membantu kita memahami kompetensi yang perlu dikembangkan. Montessori membantu kita menghormati proses bagaimana anak membangunnya.
Riset memberi sinyal bahwa kualitas penerapan menentukan hasil. Studi Lillard & Else-Quest (2012), Journal of School Psychology 50(3) membandingkan program Montessori klasik, Montessori yang dimodifikasi, dan program konvensional. Anak di program klasik berfidelitas tinggi menunjukkan kemajuan lebih besar pada fungsi eksekutif, membaca, matematika, kosakata, dan pemecahan masalah sosial. Uji acak nasional yang dilakukan Lillard dkk. pada tahun 2025 melaporkan skor membaca, memori jangka pendek, theory of mind, dan fungsi eksekutif yang lebih tinggi di akhir TK, sementara efek di usia prasekolah belum selalu nyata. Studi-studi ini dilakukan di Amerika Serikat, jadi hasilnya tidak otomatis berlaku di kelas Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah memenuhi CP berarti harus mengubah cara anak belajar di kelas Montessori?
Tidak harus. CP menyebut apa yang perlu berkembang, sedangkan Montessori tetap menjadi cara anak mengalami proses belajar melalui pilihan, pengulangan, dan observasi guru. Sekolah perlu mendokumentasikan keterkaitannya, bukan menyeragamkan kegiatan.
Apakah guru harus membuat aktivitas baru untuk setiap indikator CP?
Tidak. Satu aktivitas Montessori dapat mendukung beberapa kompetensi, dan satu kompetensi dapat terlihat melalui banyak pengalaman. Guru mengamati dulu, lalu menelusuri keterkaitannya dengan CP.
Apa perbedaan metode Montessori dan Kurikulum Merdeka di PAUD?
Kedudukannya. Montessori adalah metode berbasis perkembangan anak, sedangkan Kurikulum Merdeka adalah kebijakan nasional dengan capaian yang harus dipenuhi satuan PAUD.
Apa itu work cycle, dan apakah harus mengikuti tema?
Work cycle adalah rentang bekerja anak dalam kurun waktu tertentu. Tempat anak memilih dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa terburu-buru di lingkungan yang dipersiapkan. Tidak harus mengikuti tema. Tema boleh menjadi pengayaan, tetapi tidak mengubah seluruh work cycle menjadi pembelajaran tematik.
Apa itu metode Montessori untuk anak usia dini?
Pendekatan pendidikan yang dikembangkan Maria Montessori. Anak belajar mandiri di lingkungan yang disiapkan, memakai materi konkret dan berjenjang, sementara guru mengamati dan memandu. Anak bebas memilih kegiatan, tetapi tetap dalam batas aturan kelas.
Bagaimana observasi membantu guru memenuhi CP?
Observasi menunjukkan kualitas keterlibatan anak, sehingga guru bisa memutuskan perlu pengulangan, presentasi ulang, tantangan baru, atau ruang untuk konsentrasi. Hasil pengamatan itu juga menjadi bahan dokumentasi keterkaitan dengan CP.
Penutup
Perlu diperhatikan bahwa hal yang perlu dikembangkan guru dalam kondisi ini bukan hanya kemampuan menyusun pemetaan kurikulum, tetapi juga kemampuan memahami anak dan mengambil keputusan pedagogis yang tepat.
Di Rona Teacher Growth Talk, 30 Oktober, peserta diajak membaca CP Nasional, menerjemahkannya ke pengalaman belajar Montessori, dan menjaga keautentikan Montessori dalam praktik sehari-hari.
Rujukan
- Kemendikbudristek, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2022). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka.
- Lillard, A. S., & Else-Quest, N. (2012). Preschool children's development in classic Montessori, supplemented Montessori, and conventional programs. Journal of School Psychology, 50(3), 379–401.
- Lillard, A. S., dkk. (2025). A national randomized controlled trial of the impact of public Montessori preschool at the end of kindergarten. PNAS, 122(43).
- Muhid, S. J. N. B. A., Rosli, R. I. B., Omar, R. B., & Mohamad, I. (2025). A scoping review of the implication of Montessori curriculum in early childhood education. International Journal of Research and Innovation in Social Science, 9(3), 2873–2891.
- Montessori method in early childhood education: A systematic review. (2021). Çukurova University Faculty of Education Journal, 50(2).
- Zahira, Z., dkk. (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka, Kurikulum Islami, dan Kurikulum Montessori di Sekolah Islamic Montessori.
- Kajian asesmen bahasa PAUD di Indonesia. Jurnal Salus Cultura.
